This is featured post 1 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 2 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
This is featured post 3 title
Replace these every slider sentences with your featured post descriptions.Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha - Premiumbloggertemplates.com.
October 25, 2013
4:00:00 PM
Bu Rosyidah Andriani
Hari ku yang dulu sepi menjadi berarti
Wajahku yang dulu curam kini jadi indah berseri
Kesedihanku yang memuncak telah terobati
Semua hilang ketika kau muncul sebagai penglipur hati
Sahabat...
Terimakasih atas kesetiaan yang begitu bulat
Hingga aku merasakan makna atas segala nikmat
Bahkan aku bisa mengangkat jiwa dengan kuat
Satu lagi, kau selalu membuatku senantiasa semangat
Ketika aku sedang bingung
Hingga aku mulai merenung
Kau datang menyemangatiku sampai berdayung dayung
Dan lagi semangatku terbang bak sayap burung
Satu yang selalu kuinginkan
Yakni ingin bersamamu melewati rintangan
Rintangan hdup yang datang bergantian
Kemudian...
Kau bersamaku mengejar impian
October 21, 2013
2:33:00 PM
Bu Rosyidah Andriani
Resep Bubur Biji Salak
Senin, 07 Oktober 2013 13:05Terbuat dari berbagai bahan yang mudah ditemui sehari-hari, Anda bisa menghasilkan bubur lezat ini untuk keluarga.
Bahan:
750 gram ubi jalar, cuci bersih dan kupas, dikukus kemudian dihaluskan
125 gram tepung sagu
1/2 sendok teh garam
200 gram gula merah
2 sendok makan gula pasir
1500 ml air
3 lembar daun pandan
1 sdm sagu larutkan pada sedikit air
Bahan saus:
750 ml santan dari 1 butir kelapa
1/2 sendok teh garam
1 lembar daun pandan
Cara Membuat:
Saus Santan
- Masukkan semua bahan ke dalam panci, kemudian aduk-aduk hingga mendidih di atas api kecil.
- Pastikan selalu mengaduk sehingga santan tidak pecah.
- Apabila saus sudah mengental, matikan api, dan sisihkan.
- Ambil 3/4 ubi jalar yang sudah dihaluskan, campur dengan tepung sagu dan garam. Uleni hingga merata.
- Bentuk adonan menjadi bulat-bulat atau lonjong seperti biji salak. Sisihkan.
- Didihkan air, gula merah, serta daun pandan. Masukkan adonan yang telah dibentuk dan masak hingga matang dan mengapung.
- Masukkan larutan sagu kemudian aduk sejenak hingga mengental. Matikan api, dan sajikan selagi hangat dengan tuangan saus di atasnya.
RESEP TRADISIONAL
Balado Udang Kemangi Pedas5 Salad Super Lezat Ala Indonesia
Mie Aceh Sabang
7 Menu Tradisional Asal Indonesia
Tempe Bacem Enak dan Gurih
Bubur Mutiara Buah Naga
October 18, 2013
8:49:00 PM
Bu Rosyidah Andriani
5 Tips Gaya Pacaran Sehat, Awet dan Bahagia
Posted on 16 Oktober 2013 by Bayu Hendriyana
Rate This
Pacaran adalah salah satu cara untuk saling mengenal karakter antara Anda dan dia. Ketika hati berdebar saat melihat senyumnya, maka di saat itulah seseorang sadar dia sedang jatuh cinta. Saat Anda dan dia merasakan debaran yang sama, ada perasaan untuk selalu ingin di dekatnya, ada perasaan untuk ingin mengenalnya lebih dalam. Maka pacaran menjadi salah satu media untuk menyatukan dua hati sebelum menikah.
Pacaran atau tidak pacaran adalah pilihan masing-masing individu. Ada yang memutuskan tidak ingin pacaran dan langsung menikah saja, ada yang merasa lebih nyaman jika pacaran dulu untuk mengenal si dia lebih jauh sebelum memutuskan untuk menikah. Apapun pilihannya, selama itu Anda rasa baik dan tidak merugikan, silakan saja.
Namun yang dikhawatirkan, pacaran seringkali dianggap sebagai media yang merugikan pihak wanita. Mari kita persingkat saja bahwa saat ini, pacaran sering dijadikan media melakukan seks bebas. Padahal, pacaran bisa dilakukan dengan cara sehat, Anda dan dia bisa saling mengenal lebih jauh tanpa harus melibatkan hubungan intim di dalamnya.
Apa bisa? Tentu saja bisa.
5 TIPS berikut jawabannya:
1.CINTA DAN NAFSU ITU BERBEDA
2.TETAP MENJADI DIRI SENDIRI
3.KENAL DIA DAN KELUARGANYA
4.BERI DIA DAN ANDA KEBEBASAN
5.CINTA TIDAK MENINGGALKAN RASA SAKIT
8:25:00 PM
Bu Rosyidah Andriani
10 Titik Paling Sensitif dari Tubuh Wanita
Posted on 18 Oktober 2013 by Bayu Hendriyana
SEBUAH studi baru dari Bangor University di Inggris mengidentifikasi titik-titik paling sensitif pada tubuh wanita. Dan tentu saja, klitoris menempati peringkat pertama daftar titik paling sensitif di tubuh wanita.
Namun, klitoris bukan satu-satunya tempat yang jika dirangsang bisa membuat Anda gila. Anda dan pasangan bisa memanfaatkan titik-titik sensitif ini untuk saling menggoda dan memuaskan, seperti dilansir Women’s Health Mag.
Klitoris
Ini adalah titik paling sensitif pada tubuh wanita, kata Gloria Brame, Ph.D., penulis buku Sex for Grown-Ups: A Sex Primer for the 21st Century. Minta pasangan Anda memulai dengan menyentuh bagian tubuh Anda ini dengan lembut dan secara bertahap menjadi sensasi grinding lembut. Untuk stimulasi klitoris yang lebih dahsyat saat berhubungan seks, cobalah beberapa sex toys yang dapat dilakukan bersama-sama.
Vagina
Latihan kegel dapat membuat stimulasi vagina menjadi lebih baik, ditambah mereka bisa meningkatkan peluang Anda untuk orgasme. Ketahuilah kecepatan dan sensasi yang cocok untuk Anda.
Mulut/bibir
Bibir wanita super-sensitif, inilah sebabnya mengapa ciuman yang baik dapat terasa begitu mengagumkan. Naikkan sensasi dengan bergantian antara melakukan ciuman lembut sensual dan make out yang penuh gairah. Kemungkinannya, pasangan Anda akan mengikuti langkah Anda.
Tengkuk leher
Alasan tempat ini begitu sensual karena ada banyak ujung saraf, kata Brame. Setiap ciuman, belaian, atau gigitan di daerah ini akan mengirimkan sinyal “menggigil” ke seluruh tubuh.
Payudara
Ketika pasangan membelai payudara Anda, tubuh Anda melepaskan hormon oksitosin (zat kimia yang membuat Anda merasa), kata Beverly Whipple, Ph.D., profesor emerita di Rutgers University.
Puting
Wanita biasanya memiliki puting yang sensitif, namun jenis sensasi yang diinginkan wanita – dari belaian lembut sampai gigitan lembut – benar-benar bervariasi, kata Brame. Pastikan pasangan Anda melakukan tekanan yang tepat dengan memberitahunya jika dia telah melakukan suatu hal yang besar atau jika sedikit terlalu kasar.
Paha bagian dalam
Daerah ini ada banyak kelompok saraf, tetapi dibutuhkan lebih banyak belaian atau tekanan pada tempat ini daripada titik sensitif lainnya di tubuh Anda, kata Brame. Minta pasangan mencium, menggigit, bahkan meluncurkan es batu naik dan turun di setiap paha Anda.
Leher belakang bagian bawah
Alasan kenapa leher Anda seperti hot spot dan sangat sensitif karena di bagian tersebut dipenuhi pembuluh darah, sehingga membuat Anda terasa “rentan”, kata Brame. Belaian yang lembut adalah cara paling bagus untuk merangsang daerah ini. Tetapi jika Anda sedang berhasrat ingin sesuatu yang lebih, minta pasangan memijat bahu dan leher.
Telinga
Hampir telinga semua orang peka, kata Brame. Minta pasangan menyentuh tepi luar telinga Anda dengan jari atau lidahnya, dan jaga mulut mereka super dekat ketika membisikkan sesuatu yang seksi. Dirty talk ditambah napas hangat di telinga dan leher dijamin dapat membangunkan indera Anda yang lainnya, kata Brame.
Punggung bawah
Tambahkan pijat punggung cepat untuk foreplay Anda. Brame menyarankan agar pasangan menggosok atau memijat dasar tulang belakang Anda sebelum Anda bercinta. Tidak hanya itu adalah titik sensual, tetapi juga dapat membantu panggul Anda rileks dan membuat seks terasa lebih baik.
October 17, 2013
12:45:00 PM
Bu Rosyidah Andriani
Antusias – Kunci keberhasilan
Salah satu kunci untuk berhasil adalah menjaga sikap untuk tetap antusias. Bersikap antusias akan mengairahkan hidup kita. Semangat kamu saat mengerjakan sesuatu akan sangat mempengaruhi hasil yang akan kamu peroleh. Bahkan kegagalan-kegagalan yang terjadi pun akan terhapus oleh sikap positif yang adalah dampak dari sikap antusias kamu.
Jika kamu antusias, maka orang lain yang bertemu dengan kamu akan bergairah pula. Itu sebabnya dalam segala pekerjaan, kita tetap perlu antusias. Frank Bettger (saleman yang berhasil) berkata “untuk menjadi antusias, bersikaplah antusias”.
Sumber antusias adalah dari diri kamu sendiri, bukan dari situasi atau orang lain. Maka, raihlah antusiasme itu dengan sikap proaktif seperti mau turun tangan membantu dulu, melakukan lebih dulu dsb. Paksakan diri kamu untuk bersikap antusias dan kita akan menjadi antusias. Sekalipun perasaan dan kondisi tidak memungkinkan untuk antusias dan bersukacita, kita dapat selalu memilih untuk tetap melakukannya.
Bertindak antusias akan membuat kita menyukai dan menikmati hidup yang Tuhan berikan. Apapun kondisi kita hari ini, mulailah hari ini dengan bertindak antusias. Temukan apa yang akan terjadi dalam hidup kita.
October 12, 2013
8:49:00 AM
Bu Rosyidah Andriani
Strategi Belajar Mengajar
- Pengertian Strategi Belajar Mengajar
Kata strategi berasal dari kata Strategos (Yunani) atau Strategus. Strategos berati jendral atau berarti pula perwira negara (states officer).
Dalam kamus besar Bahasa Indonesia, strategi berarti “rencana yang cermat mengenai kegiatan untuk mencapai sasaran khusus. Selanjutnya H. Mansyur menjelaskan bahwa strategi dapat diartikan “sebagai garis-garis besar haluan bertindak dalam rangka mencapai sasran yang telah ditentukan.
Dalam perkembangannya, konsep strategi telah digunakan dalam berbagi situasi, termasuk situasi pendidikan.Impelementasi konsep strategidalam situasi dan kondisi belajar mengajar ini, melahirkan pengertian sebagai berikut :
1. Strategi merupakan suatu keputusan bertindak dari guru dengan menggunakan kecakapan dan sumber daya pendidikan yang tersedia untuk mencapai tujuan melalui hubungan yang efektif antara lingkungan dan kondisi yang paling menguntungkan.
2. Strategi dalam proses belajar mengajar merupakan suatu rencana yang dipersiapkan secara seksama untuk mencapai tujuan-tujuan belajar.
Strategi belajar mengajar adalah siasat guru untuk mengoptimalkan interaksi antara peserta dengan komponen-komponen lain dari sistem instruksional secara konsisten.
Strategi belajar merupakan suatu kegiatan yang memelihara konsistensi dan kekompakan setiap komponen pengajaran yang tidak hnya berjadi pada tahap perencanaan saja, tetapi juga terjadi pada tahap implementasi atau pelaksanaan, bahkan pada tahap pelaksanaan evaluasi.Strategi belajar mengajar pada dasarnya mencakup empat hal utama, yaitu :
a. Penetapan Tujuan Pengajaran Khusus (TPK)
Yaitu gambaran dari perubahan tingkah laju dan kepribadian peserta didik yang diharapkan.
b. Pemilihan sistem pendekatan belajar mengajar ang dianggap paling efektif untuk mencapai tujuan
c. Pemilihan dan penetapan prosedur, metode, tekhnik belajar mengajar yang tepat dan dapat dijadikan pengangan dalam melaksanakan kegiatan pengajaran
d. Penetapan kriteria keberhasilan proses belajar mengajar sebagai pegangan dalam mengadakan evaluasi belajar mengajar.
- Klasifikasi Strategi Belajar Mengajar
Menurut Tabrani Rosyan dkk, terdiri berbagai masalah sehubungan dengan Strategi Belajar Mengajar yang secara keseluruhan diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Konsep Dasar Strategi Belajar Mengajar
Menurut Newman and Logan, strategi dasar dari Strategi Belajar Mengajar meliputi :
a. Mengidentifikasi dan menetapkan spesifikasi dan kwalifikasi tingkah laku dan kepribadian peserta didik yang harus dicapai dan menjadi sasaran dari kegiatan belajar mengajar itu berdasarkan aspirasi atau pandangan hidup masyarakat.
b. Memilih sistem pendekatan belajar mengajar yang dipandang efektif guna mencapai sasaran atau tujuan yang telah digariskan. Pendekatan belajar mengajar yang digunakan akan mempengaruhi hasil yang akan diperoleh.
c. Memilih dan menetapkan prosedur, metode, tehnik belajar mengajar yang dianggap paling tepat dan efektif, sehingga dapat dijadikan pegangan bagi guru dalam melaksanakan tugas mengajarnya
d. Menetapkan norma-norma dan batas-batas minimal keberhasilan atau kritria standar keberhasilan, sehingga dapat dijadikan guru dalam melaksanakan evaluasi hasil belajar.
Keempat dasar inilah yang menjadi hal penting yang harus dilakukan dalam Stratei Belajar Mengajar.
2. Sasaran Kegiatan Belajar Mengajar (KBM)
Setiap KBM mempunyai sasran atau tujuan. Tujuan itu bertahap dan berjenjang mulai dari yang sangat operasional dan kongkrit yakni dari Tujuan Pembelajran Khusus dan Tujuan pembelajaran Umum-Tujuan Kurikuler-Tujuan Nasional sampai pada tujuan yang bersifat umum.
3. Belajar Mengajar sebagai suatu sistem
Belajar mengajar selaku instruksional mengacu kepada pengertian sebagai seperangkat komponen yang saling bergantung untuk satu sama lain untuk mencapai tujuan.Selaku suatu sistem, belajar mengajar meliputi sejumlah komponen, yaitu tujuan, bahan, kegiatan BM, metode, alat-alat,sumber, evaluasi. Agar tujuan itu tercapai semua, komponen yang ada harus diorganisasikan sehingga sesama komponen itu terjadi kerjasama. Karena itu, guru tidak boleh hanya memperhatikan komponen tertentu saja, misalnya metode saja, tetapi guru harus mempertimbangkan komponen secara keseluruhan.
Penjelasan dari setiap komponen adalah sebagai berikut :
a. Tujuan,
yaitu suatu cita-cita yang ingin dicapai dari pelaksanaan suatu kegiatan. Tujuan pengajaran adalah deskripsi tentang penampilan murid-murid yang kita harapkan setelah mereka mempelajari bahan pelajaran yang kita ajarkan
b. Bahan pelajaran
Yaitu substansi yang akan disampaikan dalam proses belajar mengajar. Tanpa bahan pelajaran proses belajar tak akan berjalan.Ada dua persoalan dalam penguasaan bahan pelajaran yaitu :
- Penguasaan bahan pelajaran pokok : bahan pelajaran yang menyangkut bidang studi yang dipegang oleh guru sesuai dengan profesinya.
- Penguasaan bahan pelajaran pelengkap/penunjang : bahan pelajaran yang dapat membuka wawasan seseorang guru dalam mengajar dapat menunjang penyampaian bahan pelajaran pokok
c. Kegiatan Belajar Mengajar
Yaitu inti kegiatan dalam pendidikan. Segala sesuatu yang telah diprogramkan akan dilaksanakan dalam proses belajar mengajar. Dalam KBM, guru sebaiknya memperhatikan perbedaan individual anak didik, yaitu aspek biologis, intelektual dan psikologis. Kerangka berfikir demikian diharapkan agar guru mudah dalam melakukan pendekatan kepada setiap anak didik secara individual.
d. Metode
Yaitu suatu cara yang dipergunakan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Dalam KBM, metode diperlukan oleh guru dan penggunanya bervariasi sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai setelah pengajaran berakhir.
e. Alat
Yaitu segala sesuatu yang dapat digunakan dalam rangka mencapai tujuan pengajaran. Sebagi segala sesuatu yang dapat digunakan , alat mempunyai dua fungsi yaitu : alat sebagai perlengkapan dan alat sebagai tujuan.
f. Sumber pelajaran
Yaitu suatu bahan atau sumber belajar, yakni : segala sesuatu yang dapat digunakan sebagai tempat dimana bahan pengajaran terdapat atau berasal untuk belajar seseorang.
g. Evaluasi
Menurut Wand dan Brown, evaluasi adalah suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai dari sesuatu. Evaluasi pendidikan dapat diartikan sebagai suatu tindakan atau suatu proses untuk menentukan nilai segala sesuatu dalam dunia pendidikan atau segala sesuatu yang ada hubungannya dengan dunia pendidikan.
4. Hakekat Proses Belajar
Belajar adalah proses perubahan berkat pengalaman dan latihan. Artinya tujuan kegiatan belajar adalah perubahan tingkah laku baik yang menyangkut aspek pengetahuan, keterampilan maupun sikap, bahkan meliputi segenap aspek organisme atau pribadi.
5. Entering Behavior Siswa (perubahan tingkah laku siswa)
Hasil KBM tercermin dalam perubahan tingkah laku, baik secara substansial-material, struktural-fungsional maupun secara behavioral. Ada tiga dimensi dari Entering Behavior yang perlu diketahui guru :
a. Batas-batas ruang lingkup materi pengetahuan yang telah dimiliki dan dikuasai siswa
b. Tingkat tahapan materi pengetahuan terutama kawasan pola-pola sambutan atau kemampuan yang dimiliki siswa
c. Kesiapan dan kematangan fungsi-fungsi psycofisik.
Sebelum merencanakan dan melaksanakan KBM, guru harus sudah dapat menjawab :
a. Sejauh mana batas-batas materi pengetahuan yang telah diketahui dan dikuasai siswa yang akan diajari.
b. Tingkat dan tahap sejenis kemampuan manakah yang telah dicapai dan dikuasai siswa bersangkutan.
c. Apakah siswa sudah cukup siap dan matang untuk menerima bahan dan pola-pola perilaku yang akan diajarkan.
d. Berapa jauh motivasi dan minat belajar yang dimiliki sebelum belajar dimulai.
6. Pola-pola Belajar Siswa
GAGNE mengkategorikan pola-pola belajar siswa kedalam 8 tipe, yaitu :
a. Tipe I : Signal Learning (belajar signal/tandai isyarat)
Yaitu proses penguasaan pola-pola dasar perlaku yang bersifat involuntary (tidak disengaja dan disadari tujuannya). Dalam pola perilaku ini terlibat reaksi emosional didalamnya. Kondisi yang diperlukan bagi berlangsungnya tipe ini ialah diberikannya stimulus (signal) secara serempak perangsang-perangsang tertentu secara berulang kali.
b. Tipe II : Stimulus – Respons Learning (belajar stimulus respon)
Tipe belajar ini termasuk kedalam instrumel conditioning atau belajar dengan trial dan error
c. Tipe III : Chaining (mempertautkan)
Yakni belajar membuat suatu seri gerakan-gerakan motorik, sehingga akhirnya terbentuk suatu rangkaian gerakan dalam urutan tertentu.
d. Tipe IV : Verbal Association
Belajar menghubungkan suatu kata dengan suatu objek yang berupa benda, orang dan kejadian,dan merangkaikan sejumlah kata dalam urutan yang tepat.
e. Tipe V : Discrimination Learning (belajar membedakan secara berganda)
Yakni belajar menggunakan berbagai rangkaian pengalaman secara meluas. Dalam tahapan belajar ini peserta didik mengadakan diskriminasi (seleksi/pengujian) diantara 2 perangsang atau jumlah yang diterimanya, kemudian memilih pula pola-pola sambutan yang dianggap paling sesuai.
f. Tipe VI : Concept Learning/belajar konsep/belajar pengertian.
Belajar konsep merupakan salah satu cara belajar dengan pemahaman, dan sering dikenal dengan nama “Concept Formation”. Peserta didik tipe ini belajr mengidentifikasi persamaan-persamaan karakteristik dari sejumlah pola, selanjutnya berdasarkan kesamaan ciri-ciri. Dari sekumpulan stimulus dan juga obyek-obyeknya, ia membentuk suatu pengertian.
g. Tipe VII : Rule Learning (belajar Kaidah)
Yaitu belajar dengan menggunakan beberapa rangkaian peristiwa atau konsep terdahulu untuk sampai pada suatu prinsip yang mungkin berlaku untuk beberapa hal atau peristiwa atas dasar suatu ketentuan atau anggapan. Hasil belajar ini adalah siswa menghubungkan beberapa konsep menjadi kaidah/prinsip/hukum.
h. Tipe VIII : Problem solving (belajar memecahkan masalah)
Yaitu belajar memecahkan masalah berdasarkan beberapa prinsip atau gejala atau peristiwa yang lalu dengan beberapa kemungkinan.
7. Memilih Sistem Pendekatan Belajar Mengajar
a. Enquery Discovery Learning
Yaitu belajar mencari dan menemukan sendiri. Belajar mengajar ini guru menyajikan bahan pelajaran tidak dalam bentuknya yang final, tetapi peserta didik diberi kesempatan untuk mencari dan menemukan sendiri dengan mempergunakan tehnik pendekatan masalah.
b. Expository Learning
Dalam sistem ini guru menyajikan dalam bentuk yang telah dipersiapkan secara rapi, sistematik dan lengkap. Sehingga anak didik tinggal menyimak dan mencerna saja secara tertib dan teratur. Secara garis besar prosedur ini adalah sebagai berikut :
1. Preparasi : guru menyiapkan bahan selengkapnya secara sistematis dan rapi (sebelum masuk kelas)
2. Apersepsi : guru bertanya atau memberikan uraian singkatu untuk mengarahkan perhatian anak didik kepada materi yang akan diajarkan
3. Presentasi : guru menyajikan bahan dengan jalan berceramah atau menyuruh siswa membaca bahan yang telah disiapkan.
4. Resitasi : guru bertanya dan anak didik menjawab sesuai dengan bahan yang dipelajari, atau anak didik disuruh menyatakan kembali dengan kata-katanya sendiri tentang pokok masalah yang telah dipelajari (secara lisan/tulisan)
c. Mastery Learning (belajar tuntas)
Adalah pendekatan belajar dengan menitik beratkan pada pengulasan matri/bahan pelajaran secara tuntas pada diri siswa. Jika guru menghendaki anak didik dapat mencapai taraf penguasaan bahan pengajaran secara tuntas, misalnya 75%, maka bahan pelajaran harus disusun secara sempurna, begitu juga instrumen evaluasi atau pengukuran hasil belajarnya harus sudah dipersiapkan.
Langkah-langkah yang ditempuh dalam Mastery Learning adalah :
1. Menentukan unit belajar. Suatu pelajaran dipecah kedalam unit-unit kecil yang akan diajarkan untuk setiap satu/dua minggu.
2. Merumuskan tujuan pelajaran. Tujuan pelajaran dirumuskan secara khusus yang menggunakan istilah yang dapat diukur.
3. Menentukan standart Mastery (penguasaan penuh). Ditentukan tingkatan perolehan yang dijadikan patokan tingkat penguasaan penuh dengan prosentase.
4. Menyusun diagnostik Progrest Test, Test formatif : soal-soal test disusun dengan maksud untuk umpan balik guna mengetahui dimana kelemahan siswa mengikuti pelajaran.
5. Mempersiapkan seperangkat tugas untuk dipelajari
6. Mempersiapkan seperangkat pengajaran korektif. Berdasarkan hasil test yang dilakukan, guru dapat mengetahui siswa yang dianggap mempunyai kelemahan dan dimana letak kelemahannya.
7. Pelaksanaan pengajaran biasa : Pengajarandilakukan secara biasa, setiap akhir satu unit pelajaran dilakukan test formatif.
8. Evaluasi sumatif, dilakukan bila seluruh unit pelajaran telah selesai pada akhir program pelajaran.
d. Humanistic Education Approach
Teori ini menitik beratkan upaya membantu siswa agar sanggup mencapai perwujudan dirinya (self realization) sesuai dengan kemampuan dasar dan keunikan yang dimilikinya. Ciri pendekatan ini antara lain bahwa guru hendaknya jangan membuat jarak terlalu tajam dengan siswanya. Guru harus menempatkan diri berdampingan dengan siswa dan bertindak sebagai siswa senior yang selalu siap menjadi sumber atau konsultan dan berbicara.
- Implementasi Belajar Mengajar
Proses belajar Mengajar (PBM) adalah suatu aspek dari lingkungan sekolah yang diorganisasikan. Lingkungan ini diatur serta diawasi agar kegiatan belajar terarah kepada tujuan pendidikan.
Kwalitas dan kwantitas belajar murid didalam PBM bergantung pada banyak faktor, antara lain murid-murid didalam kelas, bahan-bahan pelajaran, perlengkapan belajar, kondisi umum, dan suasana didalam PBM. Adapun faktor lainnya yang dapat mendukung tercapainya belajar yang baik di dalam kelas adalah adanya Job description PBM, yang memuat serangkaian pengertian peristiwa belajar yang dilakukan oleh kelompok-kelompok siswa. Kegiatan belajar ini akan berjalan dalam proses yang terarah dan mencapai tujuannya.
Tahap-tahap pengelolaan kelas yang lazim dipakai pada masa kini meliputi :
1. Perencanaan (meliputi penciptaan, penyusunan program, dan perumusan kegiatan)
2. Pengorganisasian ( meliputi pemanfaatan sumber dan bagian tugas )
3. Pengarahan (meliputi motivasi, supervisi, dan koordinasi)
4. Pengawasan (meliputi penganggaran, pelaporan dan evaluasi)
Dalam KBM, terdapat dua hal yang ikut menentukan keberhasilannya, yakni pengaturan PBM, dan pengajaran itu sendiri.Keduanya mempunyai saling ketergantungan satu sama lain. Kemampuan mengatur PBM yang baik, akan menciptakan situasi yang memungkinkan anak belajar sehingga merupakan titik awal keberhasilan pengajaran.
Untuk menciptakan suasana yang dapat menumbuhkan gairah belajar, meningkatkan prestasi belajar siswa, memerlukan pengorganisasian proses belajar yang baik. Tujuan pengajaran merupakan pangkal tolak keberhasilan dalam pengajaran. Makin jelas rumusan tujuan makin mudah menyusun rencana dan mengimplementasikan KBM dengan bimbingan guru.
October 11, 2013
8:52:00 AM
Bu Rosyidah Andriani
Pengertian Belajar dan Mengajar
Pengertian Belajar
PanduanGuru.com berikut ini akan membahas mengenai Pengertian Belajar. Belajar merupakan kegiatan paling pokok dalam proses belajar mengajar manusia. Terutama dalam pencapaian tujuan institusional suatu lembaga pendidikan atau sekolah. Hal ini menunjukkan bahwa berhasil tidaknya suatu pencapaian tujuan pendidikan tergantung kepada bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh individu. Menurut S. Nasution (1982:39), Belajar dianggap merupakan perubahan tingkah laku sebagai akibat dari pengalaman dan latihan. Menurut pendapat tradisional yang dikutip dari Sadiman (2003:2) belajar adalah menambah dan mengumpulkan sejumlah pengetahuan. Di sini yang dipentingkan pendidikan intelektual, kepada anak-anak diberikan bermacam-macam pelajaran untuk menambah pengetahuan yang dimilikinya, terutama dengan jalan menghafal. Siahaan (2005:2) berpendapat bahwa belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan. Tingkah laku yang baru itu misalnya dari tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian baru, serta timbul dan berkembangnya sifat-sifat sosial dan emosional.
Menurut Ernest R. Hilgard (Roestiyah, 2001:5), “Learning in the process by which an activity originates or is the changed through training procedures (whether in the laboratory or in the natural environment) as distingished from changes by factors not attribut able to training”.
Nana Sudjana (1989:7) mengemukakan bahwa belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan perubahan pada diri seseorang. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar. Lebih lanjut Nana Sudjana (1989:28) mengemukakan bahwa pengertian belajar sebagai proses yang aktif, belajar adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu.
Belajar adalah proses melalui berbagai pengalaman. Belajar adalah proses melihat, mengamati, dan memahami sesuatu. Apabila kita bicara tentang belajar maka kita belajar bagaimana mengubah tingkah laku seseorang. Moh. Surya (1997:54) mengemukakan pengertian belajar sebagai suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk memeroleh suatu perubahan perilaku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalaman individu itu sendiri dalam intraksi dengan lingkungannya. Kemudian Abin Syamsudin (1996:20) mengatakan bahwa belajar adalah suatu proses perubahan perilaku/pribadi seseorang berdasarkan praktek atau pengalaman tertentu.
Hal serupa diungkapkan oleh Oemar Hamalik (1992:56) yang menyatakan belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku berkat adanya latihan dan pengalaman. Sedangkan Moh. Uzer Usman (1996:4) berpendapat bahwa belajar dapat diartikan sebagai perubahan tingkah laku pada diri individu berkat adanya interaksi antara individu dengan individu, individu dengan lingkungannya sehingga mereka lebih mampu berinteraksi dengan lingkungannnya.
Di dalam Ensiklopedi Pendidikan (Sugarda, 1999: 46) dikatakan bahwa belajar adalah “berusaha memiliki pengetahuan atau kecakapan”. Seseorang telah mempelajari sesuatu terbukti dengan perbuatannya. Ia baru dapat melakukan sesuatu hanya dari proses belajar sebelumnya, tetapi harus diingat juga bahwa belajar mempunyai hubungan yang erat dengan masa peka, yaitu suatu masa di saat sesuatu fungsi maju dengan pesat untuk dikembangkan.
Berdasarkan beberapa definisi tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa belajar adalah proses perubahan di dalam diri manusia. Apabila setelah belajar tidak terjadi perubahan dalam diri manusia, maka tidaklah dikatakan bahwa padanya telah berlangsung proses belajar. Perubahan sebagai hasil dari proses belajar dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk yang relatif permanen, seperti perubahan dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa, dari tidak terampil menjadi terampil, serta aspek-aspek lainnya. Sedangkan perubahan dapat diwujudkan dalam bentuk perubahan kondisi yang bersifat kontemporer, seperti anak-anak menjadi dewasa atau dari berbaring, merangkak, berdiri dan baru kemudian bisa berjalan. Perubahan tersebut hendaknya terjadi sebagai akibat interaksinya dengan lingkungan. Tidak karena proses pertumbuhan fisik atau kedewasaan. Selain itu, perubahan tersebut haruslah bersifat relatif permanen, tahan lama dan menetap, tidak berlangsung sesaat saja.
Berdasarkan beberapa pendapat yang dikemukakan tersebut, jika diperhatikan secara redaksional tentu saja berbeda satu sama lainnya, namun secara esensial semua pendapat tersebut mengacu kepada maksud, tujuan, dan konsep yang sama dan memiliki unsur-unsur yang sama pula, yaitu :
- Adanya individu yang belajar
- Adanya belajar sebagai suatu proses
- Hasil belajar sebagai hasil perubahan tingkah laku
- Proses belajar terjadi di dalam interaksi dengan lingkungan
Berdasarkan hal tersebut, dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu proses perubahan perilaku/pribadi seseorang berdasarkan pengalamannya berinteraksi dengan lingkungannya yang ditunjukan dalam berbagai bentuk seperti perubahan pengetahuan, pemahaman, sikap, dan tingkah laku, keterampilan, kecakapan, kebiasaan serta perubahan aspek-aspek lain yang ada pada individu yang belajar.
Pengertian Mengajar
Kegiatan mengajar pada diri siswa akan tercipta jika ada usaha yang dilakukan oleh guru, usaha dari pihak ini kita kenal
dengan istilah mengajar. I. L. Pasaribu dan B. Simanjuntak (1983:7) mengemukakan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan mengorganisasikan (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik, sehingga terjadi proses belajar didik. Mengajar merupakan suatu kegiatan yang disengaja yang dilakukan untuk membantu siswa dalam proses belajarnya. Seperti yang diungkapkan oleh Mohamad Ali (1985:12) bahwa mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar siswa dengan tujuan yang telah dirumuskan.
dengan istilah mengajar. I. L. Pasaribu dan B. Simanjuntak (1983:7) mengemukakan bahwa mengajar adalah suatu kegiatan mengorganisasikan (mengatur) lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak didik, sehingga terjadi proses belajar didik. Mengajar merupakan suatu kegiatan yang disengaja yang dilakukan untuk membantu siswa dalam proses belajarnya. Seperti yang diungkapkan oleh Mohamad Ali (1985:12) bahwa mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar siswa dengan tujuan yang telah dirumuskan.
Menurut Oemar Hamalik (1992:1), mengajar diartikan sebagai usaha pemberian bimbingan kepada siswa untuk belajar. Dengan kata lain mengajar adalah menciptakan lingkungan dan berbagai kemudahan belajar bagi siswa. Sedangkan Nana Sudjana (1989:7) mengatakan bahwa mengajar adalah membimbing kegiatan siswa belajar. Mengajar adalah mengatur dan mengorganisasi lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga dapat mendorong dan menumbuhkan siswa melakukan kegiatan belajar. Lebih lanjut S. Nasution (1982:2) mengungkapkan terdapat beberapa hal yang berhubungan dengan kegiatan mengajar, antara lain:
- Mengajar berarti membimbing aktivitas anak
- Mengajar berarti membimbing pengalaman anak
- Mengajar berarti membantu anak berkembang dan menyesuaikan diri kepada lingkungannya.
Pengertian mengajar tersebut mengisyaratkan bahwa tugas guru adalah membimbing siswa untuk belajar dalam rangka mencapai perubahan tingkah laku yang diinginkannya. Mengajar pada hakikatnya adalah suatu proses mengorganisir lingkungan yang ada di sekitar siswa sehingga pada diri siswa terjadi proses belajar. Dalam hal ini, S. Nasution (1982:8) mengemukakan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisir lingkungan sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan anak sehingga terjadi proses belajar.
Berdasarkan beberapa pendapat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah suatu proses kegiatan yang disengaja dan terencana untuk membimbing dan mengawasi siswa dalam aktivitas belajar untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya. Seorang guru sebagai pengajar (Slameto, 1991:40) harus memerhatikan prinsip-prinsip sebagai berikut:
1) Konteks
Dalam belajar sebagian besar tergantung pada konteks belajar itu sendiri. Ciri-ciri konteks yang baik adalah membuat pelajar menjadi lawan berinteraksi secara dinamis dan kuat sekali, terdiri dari pengalaman yang actual dan konkret. Pengalaman yang konkret dan dinamis merupakan alat untuk menyatakan pengertian yang sifatnya sederhana sehingga dapat ditiru untuk diulanginya.
Dalam belajar sebagian besar tergantung pada konteks belajar itu sendiri. Ciri-ciri konteks yang baik adalah membuat pelajar menjadi lawan berinteraksi secara dinamis dan kuat sekali, terdiri dari pengalaman yang actual dan konkret. Pengalaman yang konkret dan dinamis merupakan alat untuk menyatakan pengertian yang sifatnya sederhana sehingga dapat ditiru untuk diulanginya.
2) Fokus
Belajar yang penuh makna dan efektif harus diorganisasikan pada suatu fokus, pengajaran akan berhasil dengan penggunaan vokalisasi. Untuk mencapai proses yang efektif, harus dipilih fokus yang memiliki ciri-ciri yang baik, seperti: memobilisasi tujuan, memberi bentuk uniformitas pada belajar, mengorganisasikan belajar sebagai suatu proses eksplorasi dan penemuan.
Belajar yang penuh makna dan efektif harus diorganisasikan pada suatu fokus, pengajaran akan berhasil dengan penggunaan vokalisasi. Untuk mencapai proses yang efektif, harus dipilih fokus yang memiliki ciri-ciri yang baik, seperti: memobilisasi tujuan, memberi bentuk uniformitas pada belajar, mengorganisasikan belajar sebagai suatu proses eksplorasi dan penemuan.
3) Sosialisasi
Kondisi sosial dalam suatu kelas banyak sekali pengaruhnya dalam proses belajar pada kelas tersebut. Sehingga dalam hal ini sosialisasi harus dilakukan. Sosialisasi yang baik akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: adanya fasilitas sosial, perangsang, dan kelompok demokratis.
Kondisi sosial dalam suatu kelas banyak sekali pengaruhnya dalam proses belajar pada kelas tersebut. Sehingga dalam hal ini sosialisasi harus dilakukan. Sosialisasi yang baik akan memiliki ciri-ciri sebagai berikut: adanya fasilitas sosial, perangsang, dan kelompok demokratis.
4) Sequence
Dalam proses belajar mengajar dipandang sebagai suatu pertumbuhan mental, siswa dapat mengalami kegagalan atau mungkin juga sukses. Ciri-ciri sequence yang baik adalah pertumbuhan bersifat kontinyu, tergantung pada tujuan, tergantung pada munculnya makna, merupakan perubahan dari yang abstrak ke arah konkrit, sebagai gerakan dari kasar dan global ke arah yang membedakan, dan pertumbuhan itu merupakan transformasi.
Dalam proses belajar mengajar dipandang sebagai suatu pertumbuhan mental, siswa dapat mengalami kegagalan atau mungkin juga sukses. Ciri-ciri sequence yang baik adalah pertumbuhan bersifat kontinyu, tergantung pada tujuan, tergantung pada munculnya makna, merupakan perubahan dari yang abstrak ke arah konkrit, sebagai gerakan dari kasar dan global ke arah yang membedakan, dan pertumbuhan itu merupakan transformasi.
5) Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan untuk meneliti hasil dan perubahan siswa, untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang melekat pada perubahan tersebut.
Evaluasi dilaksanakan untuk meneliti hasil dan perubahan siswa, untuk mengetahui kesulitan-kesulitan yang melekat pada perubahan tersebut.
Kelima prinsip mengajar di atas haruslah diperhatikan oleh guru, agar guru dapat membimbing dan mengarahkan siswa,
sehingga dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Dan yang terpenting tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.
sehingga dapat menumbuhkan minat belajar siswa. Dan yang terpenting tujuan pengajaran dapat tercapai dengan baik.
Subscribe to:
Posts (Atom)
RSS Feed
Twitter